Antara Opaltone, Pantone dan Operator Cetak

, , Leave a comment

Share

Perkembangan dunia cetak, khususnya warna,  pada dekade terakhir ini terbilang sangat pesat, antara lain dengan  telah ditemukannya sistem Opaltone dan Pantone. Opaltone adalah  sistem separasi warna dengan 7 process color (CMYK + RGB), sedangkan  Pantone dengan Hexachrome-nya (CMYK + Green & Orange).

Kedua sistem warna ini sudah diaplikasikan pada beberapa printer terbaru yang sudah dilengkapi cartridges ink/toner CMYK + RGB (atau OG), sehingga perbedaan visual screen monitor (yang sudah terkalibarsi tentunya) dengan hasil printingnya tidak berbeda jauh.

Pada cetak komersial – prosesnya lebih panjang di mana monitor tidak boleh menjadi referensi-  yang digunakan sebagai  referensi adalah color guide (Pantone, HKS dsb) dan color value yang digunakan  adalah nilai CMYK / RGB /L*a*b / LCH / Hue. Setiap tinta CMYK memiliki perbedaan color index sehingga memiliki hue yang berbeda. Jadi untuk mendapatkan warna yang sama nilainya,  tinta harus  dibakukan hue-nya.

Overtrap dari tinta-tinta CMYK akan menghasilkan tinta khusus yang gamutnya terbatas. Apabila ditambahkan tinta-tinta RGB maka gamut warna akan menjadi lebih luas, sehingga warna pastel & fluorescent yang mirip aslinya bisa diperoleh.

Dunia cetak di Indonesia, mau tak mau harus diakui, sebagian besar menutup mata terhadap teknologi ini. Idealnya penerapan teknologi ini mutlak diperlukan karena kebutuhan pelanggan semakin meningkat dan semakin bervariasi. Sebagai contoh, dahulu pada umumnya  logo perusahaan hanya dicetak  2D kemudian 3D dengan special color. Sekarang banyak logo yang dicetak  sebagai hasil perpaduan CMYK + Red & Blue (6 process color),  bukan lagi 2 opaque special color seperti yang terdapat pada logo Pepsi, Red & Blue.

Penerapan teknologi color sebaiknya segera dilakukan. Jika tidak, operator cetak, baik yang masih menggunakan mesin konvensional maupun mesin terbaru, dapat dipastikan akan mengalami kesulitan untuk memenuhi  permintaan pasar akan produk  cetak dengan warna-warna fluorescent atau warna-warna khusus, karena  kesulitan dalam menentukan ketepatan warna.

Pada praktiknya, budaya NGADUK CAT masih banyak dijumpai walaupun sistem  PANTONE CHIP dimaksud  sudah diterapkan. Pertanyaan yang timbul kemudian, apakah betul  seorang operator harus terlebih dahulu mengaduk-aduk cat untuk menghasilkan 1 warna Pantone yang sudah paten? Padahal sudah terdapat referensi  bahwa sebuah Pantone Chip = 1 warna.

Di sisi lain,  ketidakmampuan  atau ketidakmauan menerapkan teknologi canggih  ini  dengan alasan mahal dan sulit alias tidak mau repot, mengakibatkan terkekangnya  kreativitas yang semestinya dikembangkan seluas mungkin.

Tidak mengherankan jika sebagian operator cetak yang mengerti tentang “gamut”, “wavelength” warna, opaltone, warna subtractive, lebih memilih melakukan “adjustment manual dikombinasikan pengamatan mata” untuk mendapatkan warna yang diinginkan.

Sebagaimana diketahui bersama, munculnya sistem warna  seperti Pantone, Hexachrome, Opaltone, dan Eder,  begitu juga dengan  Fluorescent, Phthalo Green, Orange, Warm Red, Rhodamine Red, Purple, Violet Metallic, Non Metal Metallic, disebabkan color gamut CMYK sangat terbatas. Tujuannya adalah untuk memperluas color gamut dan reproduksi warna.

Warna tinta dibuat dari pigment, sehingga  digolongkan subtractive color. Oleh karena itu, faktor-faktor diluar tinta akan berpengaruh pada hasil cetakan. Faktor-faktor itu antara lain: kertas, print density, dot gain,trapping, dan  ink water balance untuk cetak offset.

Perlu diingat bahwa pada dasarnya warna terbentuk karena adanya cahaya. Dalam hal ini,  RGB dan pigment hanya bereaksi pada panjang gelombang spektrum RGB dengan cara menyerap, meneruskan dan memantulkan masing-masing sebagian gelombang spektrum tersebut sehingga mata  kita menangkapnya sebagai warna.

Mengingat  warna adalah persepsi, dimana setiap orang bisa memiliki persepsi berbeda, maka  perlu dibuat standard-standard warna  untuk mengurangi perbedaan persepsi tersebut. Oleh karena itu, diperlukan langkah yang sama dan seimbang dari pihak-pihak yang terkait dengan proses pembuatan produk cetak, mulai dari desainer dengan  konsep design-nya, pabrik mesin dengan  mesin cetak produksinya, pabrik tinta dengan produk tintanya, pabrik kertas dengan produk kertasnya,  dan percetakan yang berfungsi sebagai pihak pengganda.

Standard warna yang dimaksud adalah   Pantone. Standard warna  itu dibuat untuk memudahkan semua pihak dalam berkomunikasi dengan warna. Hampir semua pabrik tinta memiliki lisensi Pantone, misalnya Cemani Toka, perusahaan tinta tertua yang telah 40 tahun berperan serta  mewarnai industri  percetakan Indonesia.

Untuk industri percetakan,   penerapan  teknologi warna dapat dimanfaatkan sebagai sarana berkompetisi dalam berbisnis.  Semakin tinggi kemampuan cetak dan teknologi warna  yang dimiliki dan diterapkan suatu perusahaan percetakan, maka  akan semakin banyak kemungkinan proyek, baik  dari segi jumlah maupun harga, yang bisa diraih.

Pengadaan dan penerapan pantone adalah hal cerdas yang  sudah saatnya  dilakukan setiap pengusaha percetakan.  Di samping  memudahkan komunikasi warna  agar sesuai  dengan yang diinginkan oleh pelanggan, juga dapat menghilangkan komplain dan klaim atas hasil warna cetak yang tidak sesuai permintaan  atau target desain.

Mempelajari pengetahuan mengenai  standar baku cetak merupakan suatu keharusan untuk tetap eksis  di industri percetakan mengingat begitu cepat perkembangan teknologi berubah dari waktu ke waktu. Sedangkan berinvestasi teknologi cetak terbaru dan relevan merupakan keputusan strategis yang harus diambil pengusaha percetakan yang ingin berhasil dalam jangka panjang dan memiliki posisi tawar tinggi di mata pelanggan. Jika  tidak, bersiap-siaplah  menjadi percetakan yang  hanya akan mendapatkan proyek dengan posisi tawar rendah.

Standar cetak kadang menjadi kontroversi bagi sebagian pelaku industri cetak, karena tidak dilihat secara menyeluruh dari aspek industri cetak. Namun yang pasti standard cetak saat ini sudah menjadi tren industri cetak dan kebutuhan bagi para pelaku usaha jasa cetak, terlebih barang cetak sudah menjadi suatu komoditi yang diproduksi dalam jumlah besar dan dimultiplikasi secara konsisten.

Adabeberapa keuntungan pembuatan dan penerapan standard dalam industri cetak. Pertama, standar cetak membuat kualitas cetak menjadi hal yang lumrah  karena  semua orang atau pihak dapat membuat atau mengkopinya dengan gampang. Kedua, standar cetak menghilangkan …

Selengkapnya di Majalah Grafika  Indonesia Print Media Edisi 51 ( Maret – April  2013)

 

Sumber:http://indonesiaprintmedia.com/cetak-mencetak/207-antara-opaltone-pantone-dan-operator-cetak.html

 

Leave a Reply

− 1 = 1